FB Tweet Group
TOLONG!!! Jangan KLIK INI !!!

Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Lampung

Diberdayakan oleh Blogger.

Category

Recent Comments

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Free Automatic Elvira Links Free Backlink Service, Links Building 4 Free Florists Links Text Back Link Exchange PR Checker HyperSmash Pingates Google Pagerank icon Free PageRank Checker Wahid Biyobe Free Web Submission Text Back Links Exchanges

Meta Tag Generator

PR Checker

PERILAKU HEWAN (LAPORAN FISIOLOGI HEWAN)






PERILAKU HEWAN (BEHAVIOR)
(Laporan Praktikum Fisiologi Hewan)



Disusun Oleh:

Wahid Biyobe
(0913024076)



















PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2011





LEMBAR PENGESAHAN


Judul Percobaan                      : Perilaku Hewan (Behavior)
Tanggal Percobaan                  : 09 November 2011
Tempat Percobaan                   : Laboratorium Biologi II
Nama                                       : Wahid Biyobe
NPM                                       : 0913024076
Kelompok                               : 1 (satu)
Prodi                                        : Pendidikan Biologi 2009
Jurusan                                    : P.MIPA
Fakultas                                   : Keguruan dan Ilmu Pendidikan




                                                                        Bandar Lampung, 10  November 2011
            Asisten Praktikum                                                       Praktikan,


                                                                                                                                                Miswandi                                                                    Wahid Biyobe
NPM. 0717021050                                                     NPM.0913024076





I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semua makhluk hidup, termasuk hewan memiliki ciri-ciri makhluk hidup salah satunya yaitu iritabilitas/menanggapi rangsang. Dengan adanya kepekaan hewan terhadap rangsangan baik yang datangnya dari dalam maupun luar, maka hewan tersebut akan memberikan prilaku/respon yang berbeda-beda sesuai dengan rangsangan yang diberikan. Ada dua macam respon tingkah laku yaitu innate/serentak dan learned/dipelajari. Jadi dalam praktikum kali ini akan diuji bagaimana respon lalat buah/Drosophila melanogaster dalam melakukan tingkah laku orientasi terhadap sumber rangsangan berupa gerakan taksis (fototaksis, geotaksis, dan kemotaksis). Untuk lebih jelasnya akan dibahas pada laporan praktikum kali ini.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum pada kesempatan kali ini yaitu diantaranya:

  1. Untuk mengetahui respon lalat buah (Drosophila melanogaster) terhadap rangsangan yang diberikan baik berupa rangsangan secara geotaksis, fototaksis, maupun secara kemotaksis
  2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi iritabilitas/rangsangan pada hewan Drosophila melanogaster terhadap sumber rangsangan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prilaku Hewan

Perilaku atau behavior adalah suatu respon atau tanggap terhadap sinyal yang berasal dari lingkungan atau sinyal yang berasal dari organisme lainnya. Umumnya prilaku yang muncul oleh suatu organisme memiliki tujuan yaitu :
1.      Untuk mencari makanan dan minum
2.      Mendapat dan menjaga daerah teroterial
3.      Untuk melindungi diri
4.      Untuk bereproduksi demi kelangsungan hidup mereka

Dari tujuan tersebut maka umumnya tingkah laku atau behavior merupakan suatu kegiatan yang melibatkan semua system dalam tubuh tapi hanya dipengaruhi oleh system syaraf dan endokrin sebagai pusat koordinasi. Adakalanya perilaku hewan berkaitan dengan adaptasi. Namun adaptasi ini merupakan suatu bentuk usaha untuk menyeimbangkan berbagai proses metabolisme dan perilaku dengan perubahan secara siklik yang terjadi di sekelilingnya atau lingkungannya.

Bagaimana perilaku atau tingkah laku hewan ini terbentuk tergantung dengan keadaan serta perubahan lingkungan. Dimana sensori input dalam tubuh kemudian terjadi penyaringan sensori yang membuka informasi genetic dan pengalaman lau, kemudian pembentukan pola dalam tubuh dan akan di keluarkan motorik menjadi behavior. Dalam tubuh organisme segala bentuk masukan (sensori) input akan mengalami proses penyaringan dalam system syaraf. Dan hasilnya kemudian disampaikan sebagai informasi yang dapat ditunjukkan kepada penerimanya,
(Endang, 2002).

Dua macam respon tingkah laku adalah innate (serentak) dan learned (dipelajari), innate respon muncul seketika spontan dan konsisten terhadap suatu rangsang. Sedangkan learned respon adalah respon yang muncul tetapi berubah denga adanya pengalaman dari organisme tertsebut sehingga respon yang muncul akan lebih tepat dan sesuai dengan rangsangan yang sama diberikan berkali-kali.
Orientasi adalah prilaku hewan dimana hewan tersebut akan memutar tubuhnya menjauhi atau mendekati diri / kerarh sumber rangsangan. Prilaku ini sangan mendasar pada setiap hewan untuk mencari makan, minum, sinar matahari lawan jenis, interaksi, interaksi dengan anggota kelomponya.
Kinesis merupakan salah satu tingkah laku orientasi yang sederhana dimana organisme-organisme akan merespon secara tidak langsung terhadap rangsangan. Taksis juga merupakan tingkah laku orientasi untuk hewan-hewan yang dapat menentukan jarak dengan sumber rangsang. Respon yang banyak dilakukan antara lain fototaksis yaitu pengaruh rangsang cahaya terhadap suatu organisme, termotaksis yaitu pengaruh suhu terhadap organisme, geotaksis biasanya diamati dengan menjauhi atau mendekati bumi dan kemotaksis pengaruh zat kimia terhadap organisme, (Tim Fisiologi, 2009).

2.2 Pengkajian prilaku hewan

Pengkajian prilaku merupakan cabang biologi yang relative baru, dan cenderung lebih deskriptif serta tidak begitu meyakinkan secara analitis daripada cabang-cabang lain. Salah satu bahaya menganalisis pola-pola aktivitas hewan lain adalah kecenderungan sang peneliti untuk menyamakan aksi-aksi yang mirip dengan motif, keinginan, dan tujuan manusia. Hal ini terutama krusial dalam hal tujuan, di mana kita sama sekali tak punya kemampuan untuk menentukan apa yang sebenarnya diinginkan hewan ketika menjalani serangkaian aktivitas. Intensitas dari dalam yang mendorong hewan untuk melakukan sesuatu , apapun sifatnya, disebut dorongan (drive). Etologi, pengkajian perbandingan prilaku dari prespektif evolusioner, sering kali berurusan dengan dorongan-dorongan yang berkaitan dengan kegiatan makan, seks, perawatan anak, dan lain sebagainya. Dorongan-dorongan itu tampaknya merupakan motivasi yang muncul akibat gangguan kesetimbangan internal seekor hewan. Dorongan-dorongan itu dimodifikasi oleh berbagai factor, baik factor internal maupun factor yang ada di lingkungan. Dorongan sering kali disebut insting. (George H, 2005)

2.3 Etologi, perbedaan dan persamaan dengan psikologi komparatif, serta pola aksi dan komunikasi hewan tertentu

A. Etologi
Istilah “etologi” diturunkan dari bahasa Yunani, sebagaimana ethos (ήθος) ialah kata Yunani untuk "kebiasaan". Kata lain yang diturunkan dari kata Yunani ethos ialah: etis dan etika. Pertama kali istilah ini diperkenalkan dalam bahasa Inggris oleh Myrmekolog Amerika William Morton Wheeler pada 1902. Pada awalnya, sedikit pandangan berbeda dari istilah itu diusulkan oleh John Stuart Mill dalam System of Logic 1843nya. Ia menganjurkan pengembangan sains baru, "etologi," yang tujuannya akan menjadi penjelasan dari perbedaan perseorangan dan nasional dalam karakter, pada dasar psikologi asosiasionistik. Penggunaan kata ini tak pernah dipakai, bagaimanapun.
B. Perbedaan dan persamaan dengan psikologi komparatif
Etologi dapat dibedakan dengan psikologi komparatif, yang juga mempelajari perilaku hewan, namun menguraikan studinya sebagai cabang psikologi. Jadi di mana psikologi komparatif memandang studi perilaku heawan dalam konteks dari apa yang dikenal sebagai psikologi manusia, etologi memandang studi perilaku hewan dalam konteks dari apa yang dikenal tentang anatomi dan fisiologi hewan. Lebih lanjut, psikolog komparatif awal berkonsentrasi pada studi pembelajaran, dan kemudian cenderung melihat pada perilaku dalam keadaan buatan, sedangkan para etolog awal berkonsentrasi pada perbuatan dalam keadaan alami, cenderung mendeskripsikannya naluriah. Kedua pendekatan ini saling melengkapi daripada bersaing, namun menimbulkan perspektif yang berbeda dan kadang-kadang bertentangan dengan pendapat tentang zat bahan. Di samping itu, selama kebanyakan abad ke-20 psikologi komparatif berkembang paling kuat di Amerika Utara, sedangkan etologi lebih kuat di Eropa, dan ini menimbulkan perhatian berbeda seperti tiang pondasi filsafat yang agak berbeda dalam kedua studi itu. Perbedaan praktik ialah bahwa psikologi komparatif berkonsentrasi pada perolehan pengetahuan luas dari perilaku spesies yang lebih sedikit, sedangkan etolog lebih tertarik dalam perolehan pengetahuan dari perilaku dalam jajaran spesies yang luas, tak sekurangnya agar bisa membuat perbandingan berdasar kuat melintasi kelompok taksonomi. Para etolog telah membuat lebih banyak penggunaan dari metode komparatif yang sebenarnya daripada yang pernah diperoleh para psikolog komparatif.
C. Pola Aksi dan komunikasi hewan tertentu
Langkah penting, dihubungkan dengan nama Konrad Lorenz walau kemungkinan pada gurunya, Heinroth, ialah pengenalan pola aksi tertentu. Lorenz membuatnya terkenal sebagai tanggapan naluriah yang akan terjadi yang dapat dipercaya dalam kehadiran stimuli yang dapat dikenali (disebut stimuli tanda atau stimuli pembebasan). Pola aksi tertentu ini kemudian dapat dibandingkan melintasi spesies, serta persamaan dan perbedaan antara perilaku yang dibandiangkan dengan persamaan dan perbedaan dalam morfologi yang mana taksonomi berdasar. Studi dari Anatidae (bebek dan angsa) yang penting dan banyak dikutip oleh Heinroth menggunakan teknik ini. Para etolog mencatat bahwa stimuli yang membebaskan pola aksi tertentu umumnya menonjolkan kemunculan atau perilaku anggota lain spesies mereka sendiri, dan mereka dapat menunjukkan bagaimana bentuk penting komunikasi hewan dapat ditengahi dengan pola aksi tertentu yang sedikit sederhana. Pengamatan yang paling berpengalaman dalam bidang ini ialah studi oleh Karl von Frisch dari yang disebut “bahasa tarian” mendasari komunikasi lebah. Lorenz mengembangkan teori menarik dari evolusi komunikasi binatang berdasarkan pada pengamatannya terhadap alam pola aksi tertentu dan keadaan yang mana hewan memancarkannya, (www.wikipedia.com).

2.4 Prilaku naluri
Untuk kelakuan naluri, rangsangan terlihat mencetuskan suatu reaksi yang stabil yang tidak berubah mengikuti keadaan.
A. Taksis
Pembawaan tubuh kea rah atau jauh dari sesuatu rangsangan dinamakan taksis pada hewan. Hewan menunjukkan beberapa jenis taksis yang berbeda; fototaksis adalah gerakkan terhadap cahaya, dan kemotaksis merupakan gerakkan terhadap kimia. Sebagian serangga, misalnya kupu-kupu dan lalat, menunjukkan fototaksis; serangga tersebut akan terbang terus kearah cahaya. Selalu serangga tersebut membawa dirinya dengan mengarahkan tubuhnya hingga cahaya mengenai ke dua matanya. Jika satu matanya buta, hewan akan bergerak dalam bentuk berputar-putar, selalu coba mencari arah yang memungkinkan cahaya diimbangkan di antara ke dua mata.
Kemotaksis agak lazim di kalangan hewan.Serangga tertarik pada zat kimia yang disebut feromon, yang dikeluarkan oleh anggota spesiesnya pada jumlah yang sangat sedikit.Sejumlah semut akan mengikuti kesan feromon itu dan akan berputar-putar sampai mati kelelahan.Vertebrata kadangkala sangat bereaksi terhadap zat kimia. Anjing pemburu dpt melacak seseorang dengan mencium bau bajunya(Silvia S,1995).
2.5 Perilaku dihasilkan oleh gen dan factor-faktor lingkungan
Suatu mitos yang masih diabadikan secara luas oleh media populer adalah bahwa perilaku disebabkan oleh pengaruh gen (nature/alam) atau oleh pengaruh lingkungan (nature/pemeliharaan). Tetapi, dalam biologi, perdebatan mengenai nature bukanlah mengenai memilih salah satu; nature atau nurture adalah mengenai derajat sejauh mana gen dan lingkungan mempengaruhi sifat fenotifik, yang meliputi sifat prilaku. Fenotif tergantung pada gen dan lingkungan; sifat atau ciri perilaku memiliki komponen genetik dan lingkungan, seperti halnya semua sifat anatomis dan fisiologis seekor hewan.
Seperti ciri fenotifik lainnya, perilaku memperlihatkan suatu kisaran variasi fenotifik (suatu ’norma reaksi’) yang bergantung pada lingkungan, di mana genotip itu diekspresikan. Prilaku dapat diubah dilingkungan. Pada sisi lainnya, bentuk penyelesaian masalah  yang paling berkembang ditandai oleh morma reaksi yang sangat luas. Namun demikian, perilaku juga memiliki suatu komponen genetik---perilaku bergantung pada gen-gen yang ekspresinya menghasilkan sistim neuron yang tanggap terhadap kemajuan pembelajaran. Sebagian ciri perilaku adalah filogenetik, dengan norma reaksi yang luas, ( Campbell, 2004).


III. PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

Adapun alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini diantaranya:
@ Alat             : Toples kecil/tabung gelas, lakban/selotip, lampu senter, plastik buram/hitam
@ Bahan         : Tape, Drosophila melanogaster/lalat buah

3.2 Prosedur Kerja

Berikut ini akan dijelaskan prosedur/langkah kerja pada praktikum kali ini.

A. Percobaan Fototaksis
Langkah kerjanya:
  1. Mengambil 19 ekor lalat buah dari dalam kantong plastik yang berisi populasi lalat buah
  2. Menempatkan 19 ekor lalat buah tadi pada tabung gelas dan ditutup dengan tabung satunya, lalu digabungkan dan diikat dengan selotip
  3. Kemudian menutup salah satu tabung gelas tadi dengan menggunakan plastik buram/hitam, dan membiarkan salah satu sisinya terbuka
  4. Menyinari salah satu tabung gelas yang terbuka dengan lampu senter selama 3 menit
  5. Mengamati jumlah lalat buah yang mendekati sinar senter dan menghitung sisa lalat yang tidak mendekati sumber sinar senter tadi
Berikut ini rancangan percobaannya:

B. Percobaan Kemotaksis
Langkah kerjanya:
  1. Mengambil 7 ekor lalat buah dari dalam kantong plastik yang berisi populasi lalat buah
  2. Meletakkan tape pada salah satu tabung gelas, kemudian memasukkan 7 ekor lalat buah tadi pada tabung yang kosong, lalu gabungkan kedua tabung gelas yang berisi tape dan yang berisi lalat buah dengan cara memberikan selotip pada sisi ujung tutup kedua tabung
  3. Lalu mengamati jumlah lalat buah yang hinggap pada tape dan yang tidak hinggap pada tape selama 5 menit
Berikut ini rancangan percobaannya:

C. Percobaan Geotaksis
Langkah kerjanya:
  1. Mengambil 18 ekor lalat buah dari dalam kantong plastik yang berisi populasi lalat buah
  2. Mengambil 1 buah tabung gelas lalu tabung tersebut diisi dengan 18 ekor lalat buah, kemudian digabungkan dengan tabung gelas yang lain yaitu dengan cara memberikan selotip pada sisi ujung tutup kedua tabung
  3. Secara perlahan-lahan, mengangkat kedua tabung yang berisi 18 ekor lalat buah tadi secara horizontal/berdiri
  4. Lalu mengamati jumlah lalat buah yang bergerak/berada di atas tabung dan yang berada di dasar tabung selama 3 menit

Berikut ini rancangan percobaannya:


IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan

Berikut ini akan disajikan tabel data hasil pengamatan yang kami lakukan:

RANGSANGAN YANG DIBERIKAN
KEMOTAKSIS
FOTOTAKSIS
GEOTAKSIS
JUMLAH LALAT KESELURUHAN
7
19
18
WAKTU
5 MENIT
3 MENIT
3 MENIT
TOTAL LALAT BUAH YANG MENDEKATI SUMBER RANGSANGAN
5 EKOR LALAT BUAH
12 EKOR LALAT BUAH
6 EKOR LALAT BUAH/DI BAWAH
JUMLAH LALAT BUAH YANG MENJAUHI SUMBER RANGSANGAN
2 EKOR LALAT BUAH
7 EKOR LALAT BUAH
TOPLES12 EKOR LALAT BUAH/DI ATAS TOPLES
BAHAN/SUMBER RANGSANGAN PEMICU
TAPE
SINAR SENTER
GAYA GRAVITASI BUMI


4.2 Pembahasan

Praktikum kali ini yaitu berjudul perilaku hewan/behavior. Tujuan dari praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui bagaimana respon tingkah laku pada lalat buah/ Drosophila melanogaster terhadap rangsangan yang diberikan berupa rangsangan geotaksis, fototaksis, maupun kemotaksis, serta faktor-faktor yang berperan di dalamnya.


Untuk prosedur kerja sudah dibahas pada bab sebelumnya. Jadi disini saya akan membahas tentang hasil percobaan.

Percobaan pertama yaitu tentang uji kemotaksis, jadi setelah perlakuan diperoleh hasil percobaan bahwa pada percobaan ini menggunakan bahan/sumber rangsangan pemicu berupa tape. Perlakuan dilakukan selama 5 menit dengan jumlah total keseluruhan sampel lalat buah sebanyak 7 ekor. Jadi ada 5 ekor lalat buah yang mendekati sumber rangsangan/tape, sedangkan sisanya/ 2 ekor lalat buah menjauhi sumber rangsangan/tape. Jadi dalam percobaan ini dapat disimpulkan bahwa lalat buah tadi mengalami gerakan positif karena mereka mendekati sumber rangsangan/tape.

Percobaan kedua yaitu tentang uji fototaksis, jadi setelah perlakuan dilakukan, maka diperoleh hasil percobaan. Dalam hal ini menggunakan bahan/sumber rangsangan pemicu berupa sinar lampu senter. Perlakuan ini dilakukan selama 3 menit dengan jumlah total sampel lalat buah sebanyak 19 ekor. Jadi ada 12 ekor lalat buah yang mendekati sumber rangsangan/sinar lampu senter, sedangkan 7 ekor lalat buah lainnya menjauhi sumber rangsangan/sinar lampu senter. Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa lalat buah melakukan gerakan positif karena mayoritas mendekati sumber rangsangan/sinar lampu senter

Pada percobaan ketiga yaitu tentang uji geotaksis, jadi setelah perlakuan dilakukan, maka diperoleh hasil percobaan. Dalam hal ini menggunakan sumber rangsangan berupa gaya gravitasi bumi. Perlakuan telah dilakukan selama 3 menit dengan total sampel lalat buah sebanyak 18 ekor. Jadi ada 12 lalat buah yang menjauhi sumber rangsangan/terbang di bagian atas tabung gelas , dan sisanya sebanyak 6 ekor lalat buah mendekati sumber rangsangan tadi/ di sekitar dasar toples. Pada peristiwa tingkah laku orientasi ini  dapat disimpulkan bahwa lalat buah melakukan gerakan negatif, karena lalat buah tadi mayoritas menjauhi sumber rangsangan/gaya gravitasi bumi/terbang ke atas. Hal ini bisa saja dimungkinkan bahwa lalat buah tadi memang tingkah lakunya yaitu sering terbang bebas.

Gerakkan/tingkah laku orientasi Drosophila melanogaster ini menunjukkan bahwa perilaku hewan ini memang sangatlah mendasar bahwa pada setiap individu lalat buah memiliki suatu insting untuk mencari/mendapatkan makan, minum, sinar/cahaya, hubungan lawan jenis/seks, interaksi dengan anggota kelompoknya/menghindari predator.
Perilaku dihasilkan oleh gen dan factor-faktor lingkungan. Suatu mitos yang masih diabadikan secara luas oleh media populer adalah bahwa perilaku disebabkan oleh pengaruh gen (nature/alam) atau oleh pengaruh lingkungan (nature/pemeliharaan). Tetapi, dalam biologi, perdebatan mengenai nature bukanlah mengenai memilih salah satu; nature atau nurture adalah mengenai derajat sejauh mana gen dan lingkungan mempengaruhi sifat fenotifik, yang meliputi sifat prilaku. Fenotif tergantung pada gen dan lingkungan; sifat atau ciri perilaku memiliki komponen genetik dan lingkungan, seperti halnya semua sifat anatomis dan fisiologis seekor hewan.
Seperti ciri fenotifik lainnya, perilaku memperlihatkan suatu kisaran variasi fenotifik (suatu ’norma reaksi’) yang bergantung pada lingkungan, di mana genotip itu diekspresikan. Prilaku dapat diubah dilingkungan. Pada sisi lainnya, bentuk penyelesaian masalah  yang paling berkembang ditandai oleh morma reaksi yang sangat luas. Namun demikian, perilaku juga memiliki suatu komponen genetik---perilaku bergantung pada gen-gen yang ekspresinya menghasilkan sistim neuron yang tanggap terhadap kemajuan pembelajaran. Sebagian ciri perilaku adalah filogenetik, dengan norma reaksi yang luas.

                                                            ----------------


V. KESIMPULAN


Dari pembahasan yang telah diuraikan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pada percobaan kali ini yaitu tentang respon tingkah laku hewan terhadap beberapa sumber rangsaangan yang diberikan, seperti gerak kemotaksis, fototaksis, dan geotaksis
  2. Pada percobaan kemotaksis terjadi gerakan positif,  karena ada beberapa  lalat buah mayoritas melakukan tingkah laku orientasi ke sumber rangsangan/tape
  3. Pada percobaan fototaksis terjadi gerakan positif, karena beberapa lalat buah mayoritas melakukan tingkah laku orientasi  ke sumber rangsangan/sinar lampu senter
  4. Pada percobaan geotaksis terjadi gerakan negatif, karena ada beberapa lalat buah yang mayoritas menjauhi sumber rangsangan/gaya gravitasi bumi, sedangkan yang lainnya berada pada dasar tabung gelas
  5. Gerakkan/tingkah laku orientasi Drosophila melanogaster ini menunjukkan bahwa prilaku hewan ini memang sangatlah mendasar bahwa pada setiap individu lalat buah memiliki insting untuk mencari makan, minum, sinar/cahaya,lawan jenis, interaksi dengan anggota kelompoknya/menghindari predator.


DAFTAR PUSTAKA

Campbell,dkk. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Fried, George H. 2005. Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Lanirin W, Endang. 2002. Fisiologi Hewan. Bandar Lampung: Universitas Lampung.
Mader, Silvia S. 1995. Biologi Evolusi, Keanekaragaman, dan Lingkungan.
        Malaisya: Kucica.
Tim Fisiologi. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi. Bandar Lampung: Universitas
        Lampung
(http://www.wikipedia.com/). Diakses pada tanggal 13 November 2011, pukul 20:30
        WIB

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di BoyTrik

Artikel Menarik Lainnya :

Ditulis oleh Wahid Biyobe - Kamis, 17 November 2011 - 17.01

Belum ada komentar untuk "PERILAKU HEWAN (LAPORAN FISIOLOGI HEWAN)"

Poskan Komentar